Rabu, 31 Maret 2010

MUTU BENIH DAN HAMBATAN DALAM MEMPRODUKSI BENIH BERMUTU


Oleh : AJANG MARUAPEY

I. PENDAHULUAN

Pembangunan pertanian bertujuan meningkatkan produksi pertanian tanaman pangan untuk mencapai swasembada pangan, meningkatkan produksi tanaman industri dan tanaman ekspor, mewujudkan agroindustri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta berusaha meningkatkan pendapatan petani. Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani, tidak dapat dihindari dari penggunaan benih unggul yang merupakan mata rantai pertama dalam proses budidaya tanaman. Jika benih yang digunakan tidak memiliki kualitas yang tinggi maka tanaman tidak akan memberikan hasil yang tinggi pula. Dalam kegiatan budidaya tanaman, benih menjadi salah satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan. Peningkatan produksi pertanianpun banyak ditunjang oleh peran benih bermutu. Meski program perbenihan nasional telah berjalan sekitar 30 tahun, tetapi ketersediaan benih bersertifikat belum mencukupi kebutuhan potensialnya.

Salah satu faktor yang menyebabkan masih rendahnya tingkat ketersediaan benih bermutu adalah tingkat kesadaran petani untuk menggunakan benih yang berkualitas tinggi masih sangat kurang. Pada umumnya petani hanya menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dijadikan sebagai benih untuk musim tanam berikutnya. Benih tersebut tentu saja tidak terjamin mutunya. Hal ini disebabkan karena petani tidak mampu membeli benih yang dianggap mahal dan terjadinya penurunan kepercayaan petani akan mutu benih yang bersertifikat, dimana tidak ada kesesuaian antara isi label dengan kenyataan di lapangan. Hal ini tentu menimbulkan berbagai masalah, antara lain pemborosan devisa negara dan sulit pula untuk mengawasi mutu benih yang dipakai dalam usahatani.

Benih menjadi salah satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan dalam budidaya tanaman. Menurut FAO, peningkatan campuran varietas lain dan kemerosotan produksi sekitar 2,6 % tiap generasi pertanaman merupakan akibat dari penggunaan benih yang kurang terkontrol mutunya. Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi resiko kegagalan budidaya karena bebas dari serangan hama dan penyakit, tanaman akan dapat tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan dan berbagai faktor tumbuh lainnya. (Wirawan dan Wahyuni, 2002).

Benih yang bermutu menjanjikan produksi yang baik dan bermutu pula jika diikuti dengan perlakuan agronomi yang baik dan input teknologi yang berimbang. Sebaliknya, bila benih yang digunakan tidak bermutu maka produksinya banyak tidak menjanjikan atau tidak lebih baik dari penggunaan benih bermutu. Penggunaan benih bermutu diharapkan mampu mengurangi berbagai faktor resiko kegagalan panen.

Pentingnya penggunaan benih bermutu merupakan salah satu unsur panca usaha pertanian yang utama dalam upaya peningkatan produksi karena tanpa penggunaan benih unggul yang bermutu, maka penerapan sarana produksi lainnya akan kurang bermanfaat bahkan menimbulkan kerugian petani (Anonim 1999). Penggunaan benih unggul dalam proses budidaya tanaman, di samping dapat meningkatkan kuantitas produksi juga dapat memperbaiki kualitasnya guna memperoleh calon benih yang bermutu tinggi.

II. MUTU BENIH DAN KOMPONEN NYA

1. Mutu benih

Infut dasar yang paling penting dalam pertanian adalah mutu benih,mutu benih yang baik merupakan dasar bagi produktifitas pertanian yang lebih baik. Benih merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman, karena faktor tersebut ikut menentukan produksi. Kualitas benih itu sendiri akan ditentukan dalam proses perkembangan dan kemasakan benih, panen dan perontokan, pengeringan, penyimpanan benih sampai fase pertumbuhan di persemaian.

Mutu benih adalah hal yang penting dalam usaha produksi benih. Produsen atau pedagang benih yang maju menggunakan mutu sebagai suatu teknik kompetitif sebagaimana harga dan pelayanan. Mutu merangsang ketertarikan konsumen, membantu produsen dan pedagang benih membangun reputasi positif atau kesan yang baik dan menghasilkan konsumen yang puas dan bisnis yang berkelanjutan (Qamara dan Setiawan, 1995).

Qamara dan Setiawan (1995), menyatakan bahwa salah satu kunci budidaya terletak pada kualitas benih yang ditanam. Untuk itu diperlukan benih yang memiliki daya kecambah tinggi, sehat dan murni. Benih yang memiliki persyaratan tersebut diharapkan akan menghasilkan bibit yang benar, seragam dan sehat. Berdasarkan persyaratan kualitas, benih yang ditanam harus bermutu tinggi. Benih yang bermutu tinggi mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : 1) Daya tumbuh minimal 80 %, 2) Mempunyai unsur yang baik yaitu benih tumbuh serentak, cepat dan sehat, 3) Benih murni minimal 99 %, 4) Campuran benih atau varietas lain maksimal 1 %, 5) Sehat, bernas tidak keriput dan umumnya normal serta seragam, 6) Kadar Air 13 % dan 7) Warna benih terang dan tidak kusam. Selanjutnya dikatakan bahwa program perbenihan menitikberatkan pada penggunaan benih tepat mutu yang ditunjukkan pada labelnya. Agar tidak tertipu oleh label benih, para pengguna benih (terutama petani) hendaknya memahami tentang mutu benih dari komponen-komponennya yang dicantumkan di dalam label benih.

Penggunaan benih bermutu akan memberi banyak keuntungan bagi petani diantaranya akan mengurangi resiko kegagalan budidaya karena benih bermutu akan mampu tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan, bebas dari serangan hama penyakit sehingga dengan demikian hasil panen dapat sesuai dengan harapan (Qamara dan Setiawan, 1995). Sedangkan menurut Hill (1979) dalam Kartasapoetra (1992), bahwa pemakaian benih berkualitas tinggi dapat memberi hasil yang diharapkan, yang menyangkut peningkatan kualitas dan kuantitas produksinya.

2. Komponen Mutu Benih

Mutu benih adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh benih, yang menunjukkan kemampuan untuk memenuhi standar yang ditentukan. Mutu benih adalah sejumlah atribut dan kerakter benih yang ditunjukkan secara indifidual atau kelompok. Kualitas atau mutu benih dapat dibagi atas 4 bagian besar, yaitu:

1. Mutu Fisik

2. Mutu Fisiologis

3. Mutu Genetik

4. Mutu Pathologis

a. Mutu fisik benih

Mutu fisik benih ini berkaitan dengan kondisi fisik benih secara visual, seperti warna, ukuran, bentuk, bobot dan tekstur permukaan kulit benih. Tolak ukur yang dijadikan kriteria adalah keseragaman. Sifat-sifat lain yang diamati adalah tingkat keutuhan benih (tolak ukur; tingkat kerusakan benih), tingkat kelembaban benih (tolok ukur; kadar air benih), dan tingkat kontaminasi benda lain (tolok ukur; kemurnian mekanis benih).

b. Mutu fisiologis benih

Mutu fisiologis benih berkaitan dengan aktivitas perkecambahan benih, yang di dalamnya terdapat aktivitas enzim, reaksi-reaksi biokimia serta respirasi benih. Parameter yang biasa digunakan untuk mengetahui mutu fisiologis benih ini adalah viabilitas benih serta vigor benih. Tolak ukur viabilitas benih yaitu Daya Berkecambah (DB) dan Potensi Tumbuh Maksimum (PTM), sedangkan tolak ukur vigor benih yaitu Daya Simpan Benih dan Kekuatan Tumbuh Benih (KecepatanTumbuh Benih).

c. Mutu genetik

Benih Mutu benih secara genetik ini barkaitan dengan susunan kromosom dan DNA benih serta jenis protein yang ada dalam benih, dengan tolak ukur kemurnian genetis benih. Selain itu, tolak ukur lain adalah kemurnian mekanis benih yaitu persentase kontaminasi jenis atau varietas lain.

d. Mutu pathologis benih

Tolak ukur dari mutu pathologis benih yang biasa diginakan adalah status kesehatan benih. Hal-hal yang diamati untuk mengetahui status kesehatan benih ini adalah keberadaan serangan pathogen, jenis pathogen, dan tingkat serangan pathogen.

Sehingga dapat dinyatakan bahwa mutu suatu benih dapat dilihat dari faktor-faktor sebagai berikut : kebenaran varietas, kemurnian benih, daya hidup (daya kecambah dan kekuatan tumbuh), serta bebas dari hama dan penyakit.

Pada umumnya dipakai standar minimum sebagai dasar dari klasifikasi atau penununtun pengkuran untuk menentukan tinggi rendahnya mutu suatu benih yaitu untuk kriteria benih murni, daya kecambah dan kekuatan tumbuh. Sedangkan standar maksimum digunakan untuk kadar air benih, persentase biji tanaman lain, gulma dan kontaminan-kontaminan lain serta hama dan penyakit pada benih. Kegagalan benih untuk memenuhi satu atau lebih dari kriteria tersebut di atas dapat dianggap menunjukan sebagai benih yang mutunya kurang baik.

III. PENGENDALIAN MUTU BENIH DAN KOMPONENNYA

1. Pengendalian Mutu Benih

Dalam industri benih, pengendalian mutu memiliki tiga aspek penting, yaitu: (1) penetapan standar minimum mutu benih yang dapat diterima, (2) perumusan dan implementasi sistem dan prosedur untuk mencapai standar mutu yang telah ditetapkan dan memeliharanya, dan (3) pendekatan sistematik untuk mengidentifikasi sebab-sebab adanya masalah dalam mutu dan cara memecahkannya. Aspek pertama merupakan kewajiban lembaga pengawas benih, yang di Indonesia secara operasional berada di tangan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Pengendalian mutu oleh pihak ini disebut juga pengendalian mutu eksternal. Aspek kedua dan ketiga merupakan kewajiban produsen benih yang disebut pula dengan kegiatan pengendalian mutu internal.

Pengendalian mutu merupakan salah satu teknik pengelolaan yang paling menentukan dalam bisnis benih. Tetapi, hal ini sering tidak dipandang sebagai sumber daya oleh produsen benih, kecuali oleh perusahaan benih yang besar. Pengendalian mutu merupakan suatu kegiatan yang dapat dilakukan oleh produsen benih kecil sekalipun.

Gagasan mutu tinggi dan konsep aplikasi pengendalian mutu harus merasuk ke semua fase bisnis benih dan tidak terbatas pada keinginan sementara saja serta sedikit pengujian rutin setelah benih berada di penyimpanan atau saluran pemasaran. Kepedulian tentang mutu benih dan tindakan untuk menjamin bahwa standar tercapai dan terpelihara dimulai dengan seleksi benih untuk ditanam, kemudian meluas melalui budidaya, pemanenan, pengeringan, pengolahan (pembersihan), penyimpanan, dan distribusi, dan berakhir dengan keragaan benih yang memuaskan di lapangan produksi petani.

Teknik pengawasan mutu bukan merupakan hal yang asing bagi produsen benih dan pedagang benih. Tetapi umumnya, kegiatan ini sering dilakukan secara tidak menyeluruh di setiap aspek kegiatan produksi benih, sejak penyiapan lapang produksi sampai benih siap disalurkan. Mutu benih yang jelek kebanyakan sering merupakan hasil dari tidak melakukan sutu kegiatan atau melakukannya dengan tidak benar. Pengendalian mutu semestinya mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang diarahkan pada pencapaian standar mutu menjadi usaha yang komprehensif, sistematis, dan berkelanjutan. Pengendalian mutu berurusan dengan perhatian dan upaya pada berbagai kegiatan yang termasuk dalam bisnis benih. Prosedur yang digunakan dalam mengendalikan mutu berkisar dari yang sederhana, seperti pengontrolan sewaktu-waktu terhadap gulma yang berbahaya, sampai yang kompleks, seperti perancangan ulang sampai tuntas atas sistem penanganan dan pengangkutan benih untuk meminimumkan kerusakan benih. Pengendalian mutu berusaha menghindarkan timbulnya masalah atau, jika masalah itu tidak dapat dihindarkan, mengurangi pengaruhnya.

Perilaku atau cara pengelolaan merupakan faktor dalam mengembangkan program pengendalian mutu yang efektif. Tidak mungkin membangun suatu jenis program pengendalian mutu, kecuali jika pengelolaan terikat pada standar mutu tertentu. Keterikatan ini harus sungguh-sungguh dan konsisten. Sering terjadi bahwa pengelolaan hanya memberikan perhatian pada mutu ketika timbul masalah yang serius, bahkan dibarengi dengan banyak keluhan, atau ketika ada hal-hal yang tidak memuaskan. Tetapi, jika musim tanam telah berakhir dan masalah telah teratasi, maka semua perhatianpun berakhir; masalah yang timbul dilupakan sehingga menjadi masalah lagi dan menimbulkan situasi yang sama pada musim berikutnya.

Mutu benih terdiri dari banyak atribut atau sifat benih. Dipandang dari individu benih, sifat-sifat itu mencakup kebenaran-varietas, viabilitas, vigor, kerusakan mekanis, infeksi penyakit, cakupan perawatan, ukuran, dan keragaan. Jika dipandang dari populasi benih yang membentuk kelompok (lot), sifat-sifat mutu mencakup kadar air, daya simpan, besaran kontaminan (benih gulma dan tanaman lainnya), keseragaman lot, dan potensi keragaan. Benih bermutu tertinggi adalah benih yang murni genetis, dapat berkecambah, vigor, tidak rusak, bebas dari kontaminan dan penyakit, berukuran tepat (jika perlu), cukup dirawat (untuk jenis-jenis yang perlu dirawat), dan secara keseluruhan berpenampilan baik. Mutu yang ideal ini jarang tercapai. Agar lot benih memenuhi semua spesifikasi yang ideal, maka ditetapkan adanya standar mutu minimum. Standar minimum ini bukanlah tujuan, tetapi merupakan taraf terendah dari berbagai sifat mutu yang dapat diterima. Adapun tujuannya adalah berupa mutu yang tertinggi.

Mutu benih adalah hal yang paling penting dalam usaha produksi benih. Produsen atau pedagang benih yang maju menggunakan mutu sebagai suatu teknik kompetitif sebagaimana harga dan pelayanan. Mutu merangsang ketertarikan konsumen, membantu produsen dan pedagang benih mengembangkan reputasi yang positif atau kesan yang baik, dan menghasilkan konsumen yang puas dan bisnis yang berkelanjutan.

Program pengendalian mutu sebagian besar didasarkan pada pemerikan, pengambilan contoh yang terjadwal tepat, pengujian dan interpretasi hasil pengujian. Karena produsen benih kebanyakan harus tergantung pada laboratorium pengujian benih untuk informasi yang diperlukan agar pengendalian mutu berjalan, maka pemahaman atas hasil pengujian benih juga sangat penting. BPSB menyampaikan hasil dari pengujian tanpa memberikan komentar atau saran atas hasil pengujian itu. Karena itu, produsen benih harus dapat menginterpretasi hasil pengujian itu, yang lazimnya dilakukan oleh seseorang yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu.

2. Komponen Pengendalian Mutu benih

Berikut ini disampaikan komponen-komponen dalam pelaksanaan pengendalian mutu yang harus diperhatikan oleh produsen benih. Pengendalian mutu tidak lebih dari memberikan perhatian atas operasi dan prosedur yang penting dalam melaksanakan bisnis benih; kualifikasi benih yang akan dihasilkan dapat dicek secara periodik sehingga dapat ditentukan apakah akan memenuhi standar dan dapat dipertahankan.

a. Sumber Benih

Kemurnian varietas dari suatu pertanaman untuk menghasilkan benih tidak akan lebih baik daripada kemurnian benih yang ditanam, bahkan dapat lebih jelek. Penggunaan benih yang murni varietas dan bebas dari benih gulma merupakan langkah pertama dalam pengendalian mutu. Jika benih akan diberi sertifikat, maka sumber benih harus tertentu kelasnya dan diperiksa oleh BPSB. Jika bukan benih bersertifikat akan dihasilkan, penggunaan benih sumber berkelas sebar merupakan cara terbaik untuk menjaga kemumian varietasnya.

b. Lahan

Lahan yang digunakan untuk produksi benih harus subur, berdrainase baik dan cukup bebas dari gulma, terutama gulma yang sulit dipisahkan dari benih yang akan diproduksi. Lahan harus tidak ditanami sebelumnya dengan varietas yang berbeda atau lahan harus bera. Dalam hal lahan sebelumnya ditanami dengan varietas yang berbeda, maka hendaknya diikuti persyaratan pemberaan yang telah diatur oleh BPSB, walaupun bukan benih bersertifikat akan dihasilkan. Hal ini dimaksudkan agar pertanaman dapat terbebas dari tanaman voluntir.

c. Penanaman

Alat atau mesin tanam harus bersih sebelum diisi dengan benih yang akan ditanam. Usahakan agar hanya menanam satu varietas setiap harinya. Jika lebih dari satu varietas akan ditanam pada hari yang sama di lahan yang berbeda, bisa terjadi kesalahan mengisi alat tanam dengan satu atau dua kantong benih yang berbeda sehingga menyebabkan penanaman varietas yang berbeda di lahan yang sama. Dalam produksi benih legum, misalnya, benih yang akan ditanam mungkin perlu diinokulasi, tergantung pada jenisnya dan kondisi lahan. Benih harus disisakan kira-kira 0,5 kg untuk disimpan. Hal ini perlu untuk pengujian ulang jika ternyata benih tidak tumbuh dengan memuaskan. Pencatatan kualifikasi benih yang ditanam sebaiknya dilakukan, atau hal ini dapat ditempuh dengan menjaga label benih tidak terlepas dari kantongnya.

d. Isolasi

Jarak antarvarietas hendaknya memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan BPSB walaupun bukan benih bersertifikat yang akan dihasilkan. Produsen benih dapat menggunakan isolasi jarak atau isolasi waktu tergantung kebutuhan atau situasi lapangan. Persyaratan minimum jarak atau waktu isolasi telah diatur oleh BPSB.

e. Teknik Budidaya

Teknik budidaya terbaik hendaknya dilaksanakan, termasuk di dalamnya pengendalian gulma. Pengendalian gulma merupakan salah satu kegiatan yang ditekankan dalam prosedur menghasilkan benih bersertifikat.

f. Pemeriksaan Lapang

Petugas yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu atau supervisor produksi harus memeriksa lapangan beberapa kali dan melakukan roguing, yaitu: (1) setelah muncul bibit sambil menetapkan status pertanaman, (2) selama musim awal pertumbuhan tanaman sambil mencek keperluan pengendalian gulma dan menilai status pertanaman, (3) pada saat pembungaan untuk mencek kemurnian varietas, dan (4) sebelum panen untuk mencek kemurnian varietas, kehadiran gulma yang berbahaya, dan melaksanakan roguing terakhir.

g. Pemanenan

Alat pemanenan atau ‘kombain’ (combine) harus bersih sekali dan diperiksa sebelum digunakan. Waktu panen sedapat mungkin ditetapkan berdasarkan kadar air benih, terutama jika menggunakan cara mekanis untuk pemanenan. Pemanenan harus dilakukan jika kadar air benih telah sesuai agar benih tidak mengalami kerusakan mekanis. Hindari pemanenan dalam kondisi cuaca hujan atau mendung agar tidak menimbulkan masalah dalam pengeringan. Efektivitas pemanenan harus diperhatikan dengan memeriksa ketepatan fungsi setiap bagian alat pemanen. Walaupun saat ini telah ada kombain yang terprogram komputer, pengamatan hasil kerjanya masih memerlukan campur tangan operator. Selain itu, hendaknya dilakukan pengambilan contoh benih untuk mengukur kadar air dan menyesuaikan penyetelan bagian perontok dari kombain. Kebersihan conveyor, trailer, dan alat lain yang digunakan harus terjamin.

h. Penyimpanan “Lindak” (Bulk Storage)

Setelah dipanen, benih hendaknya ditempatkan dalam penyimpanan lindak yang bersih. Aerasi diperlukan jika kadar air benih cukup tinggi, misalnya 13-14% untuk kedelai. Aerasi diperlukan juga walaupun kadar air benih setinggi 12% atau kurang untuk menghindari adanya ‘titik atau sumber panas’ (hot spot) di dalam massa benih. Contoh benih juga diambil dari simpanan lindak ini dan dikirimkan ke laboratorium untuk diuji kemurnian dan perkecambahannya. Berdasarkan hasil pengujian itu produsen benih harus menetapkan status mutu benihnya dan memutuskan apakah perlu untuk mengolah benih lebih lanjut; langkah-langkah tertentu mungkin diperlukan pada taraf itu agar benih yang telah diuji pada akhirya memenuhi persyaratan.

i. Pengolahan Benih

Alat-alat pengolahan benih harus diperiksa dan dibersihkan dari kontaminan. Alat-alat yang diperlukan hendaknya dipasang dengan benar untuk menekan kehilangan dan mencapai hasil pemilahan yang optimum atau memenuhi standar. Pemilihan alat pemilahan benih yang tepat sangat perlu. Selanjutnya benih harus diambil contohnya dan dikirimkan ke laboratorium untuk penilaian mutunya. Kira-kira 1 kg benih hendaknya disimpan sebagai arsip dan kelompok benih harus dihitung serta ditentukan kebutuhan kantong pengemas dan labelnya.

j. Penyimpanan

Produsen benih pada umumya harus menyimpan benih sebelum disalurkan. Jika kantong-kantong benih tidak diberi etiket (label), usahakan untuk menyimpan benih berdasarkan kelompoknya. Walaupun demikian, penumpukan benih berdasarkan kelompok yang sama sebaiknya dilakukan agar mempermudah penanganannya. Catatan tentang jumlah kantong benih per kelompok harus ada, lengkap dengan posisinya di dalam gudang. Gudang harus bersih dan bebas dari tikus.

k. PemeriksaanTerakhir

Pengambilan contoh benih masih diperlukan sebelum benih didistribusikan, terutama untuk pengangkutan jarak jauh. Hal ini untuk menghindari tuntutan dari konsumen, terutama jika benih telah disimpan cukup lama di dalam gudang, walaupun masih belum kedaluwarsa. Gudang, wadah penyimpanan, dan alat-alat pengolahan, pemanenan, dan penanaman harus dibersihkan pada akhir kegiatan produksi benih di musim yang bersangkutan. Evaluasi harus dilakukan atas pelaksanaan produksi benih yang lalu agar dapat melakukan perbaikan dalam kegiatan di musim berikutnya. Produsen benih disarankan untuk melihat lapang yang telah digunakan; suatu gagasan mungkin akan muncul untuk meningkatkan taraf pengendalian mutu pada masa yang akan datang.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mutu Benih

a. Faktor bawaan ( kemurnian varietas )

b. Faktor fisiologi dan fisik benih

* Tingkat kematangan benih

* Benih harus dipanen dari tanaman yang sudah matang benar

* Tingkat kerusakan mekanis benih

* Tingkat keusangan benih, yaitu hubungan antara vigor awal benih dengan lamanya benih yang disimpan.

* Patogen pada benih, terutama soybean mozaic virus (SMU) serta penyakit virus lainnya

* Ukuran dan berat jenis benih

* Komposisi kimia benih

c. Faktor lingkungan

* Musim tanam

* Kultur teknik

* Waktu panen

* Cara tanam

d. Faktor perlakuan pascapanen

* Cara penimbunan serta lamanya penimbunan brangkasan sebelum pengeringan dan pembijian

* Cara pengeringan

* Keseragaman dan kesehatan benih sebelum disimpan

* Cara pengepakan, khususnya volume dan jenis kemasan

* Suhu dan kelembaban tempat penyimpanan

* Lama, cara, dan proses pengangkutan benih

IV. HAMBATAN DALAM MEMPRODUKSI BENIH BERMUTU

1. Permasalahan

Fakta dilapangan menunjukkan bahwa ketersediaan dan penggunaan benih bermutu (dan berlabel) masih rendah. Permasalahan yang dihadapi dalam peningkatan produksi benih antara lain adalah :

  1. Keterbatasan ketersediaan benih sumber untuk diperbanyak oleh produsen dan penangkar benih
  2. Produsen benih kelas menengah ke bawah umumnya belum mempunyai pemulia sendiri, serta penyilang benih banyak yang belum mempunyai laboratorium kultur jaringan
  3. Keterbatasan modal usaha, sehingga penggunaan input dan sarana produksi terbatas, yang berakibat volume usaha juga tidak optimal.
  4. Keterbatasan varietas benih dalam negeri yang disukai konsumen (sesuai preferensi konsumen), sementara pemohon pelepasan varietas sayuran berasal dari intoduksi (luar negeri) meningkat.
  5. Keterbatasan data supply-demand benih antar daerah dan antar sentra, sehingga jalur dan pemenuhan benih tidak terpantau secara baik.

f. Keterbatasan jumlah dan kemampuan petugas pengawas benih tanaman.

  1. Keterbatasan dana operasional bagi Balai Benih BPS danPengawan Benih Tanaman

2. Kendala utama

Persoalannya, ketersediaan benih unggul sampai saat ini masih merupakan kendala utama. Benih-benih yang diproduksi masih banyak yang belum memenuhi persyaratan yang dimaui pelanggan. Hal ini turut menyulitkan kiprah agribisnis Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam memproduksi benih bermutu sangat tergantung kepada input, proses, dan output.
Input dimulai dari benih sumber (untuk produksi) yang memenuhi standar. Dari situ akan dihasilkan benih penjenis (breeder seed) untuk kemudian diseleksi lagi menjadi benih dasar (fondation seed). Selanjutnya akan dipisahkan benih stok (stock seed) untuk selanjutnya dihasilkan benih sebar (extention seed) yang akan digunakan sebagai benih oleh petani Lebih jauh mengenai benih bermutu, menurut (Udin S Nugaraha Phd 2002),

Benih harus asli dan lulus uji kualitas yang berarti kalau ditanam harus tumbuh. Selain itu benih harus murni. Artinya, tidak tercampur oleh varietas lain atau biji gulma melampaui batas toleransi. Untuk menjamin keaslian harus ada sistem standardisasi baik pada sistem mutu, kompetensi personel, maupun akreditasi laboratorium. Sehingga harus ditekankan bagaimana produsen mampu memperbanyak benih dengan tetap menjaga kualitas. Selain standardisasi, perlu juga diperhatikan mengenai sertifikasi.

Persyaratan benih bermutu merupakan hal yang sangat penting dalam rangka melindungi kepentingan konsumen. Khusus mengenai benih bersertifikat, ia tidak setuju kalau petani dipaksa harus membeli benih bersertifikat. Yang lebih penting adalah mendorong kesadaran petani untuk menggunakan bibit bermutu. "Akan lebih baik kita membangun budaya peduli mutu di kalangan petani kita, agar mereka siap bersaing nantinya,". Petani juga perlu didorong agar mampu membuktikan diri bahwa mereka bisa memproduksi benih bermutu.

Kepercayaan diri ini penting untuk menghadapi persaingan global. Justru harus banyak diciptakan pulling factor yang membuat petani dan swasta bergairah memproduksi benih bermutu," kata Udin. Misalnya saja saat ini ada permintaan beras instan dan beras bening yang tinggi dari negara-negara Timur Tengah. Atau berkembangnya industri berbahan baku beras seperti industri bihun. Ini tentu merupakan peluang termasuk penyediaan benih-benih yang sesuai dan bermutu Pertanian Maju Dalam pertanian maju, benih tidak hanya semata-mata sebagai bahan tanam, namun juga sebagai sarana pembawa teknologi (delivery mechanism). Varietas unggul dengan karakteristik daya hasil tinggi, resistensi terhadap hama dan penyakit, serta toleransi terhadap keracunan merupakan contoh teknologi yang disalurkan kepada konsumen melalui benih. Dengan demikian produksi benih dalam skala luas dengan mekanisme pengendalian mutu mesti menjadi prioritas. Selain itu untuk menjaga keaslian dan kemurnian varietas selama proses produksi dan distribusi memerlukan keahlian dan manajemen khusus.

Hal ini sebagai antisipasi terhadap perubahan lingkungan global, khususnya untuk komoditas strategis. lalu seberapa besar kontribusi benih terhadap hasil produksi? Kalau hal itu ditanyakan ke ahlinya, secara matematis sulit dihitung. Menurut Udin, komponen terbesar untuk keberhasilan produksi adalah teknologi (intensifikasi). Sedangkan perluasan lahan atau ekstensifikasi tidak sebesar komponen teknologi tersebut Salah satu yang paling menonjol dari komponen teknologi tersebut adalah varietas unggul," ujar Udin. Dan varietas unggul itu sangat tergantung kepada ketersediaan benih dalam skala luas, lanjutnya. Dengan demikian peranan pemuliaan tanaman dan teknologi benih saat ini dan masa mendatang merupakan motor penggerak bagi kemajuan teknologi pertanian Indonesia.

V. PENUTUP

Benih merupakan salah satu faktor utama dalam kegiatan budidaya tanaman yang menjadi penentu keberhasilan. Peningkatan produksi pertanian banyak ditunjang oleh peran benih bermutu. Benih yang bermutu menjanjikan produksi yang baik dan bermutu pula jika diikuti dengan perlakuan agronomi yang baik dan input teknologi yang berimbang. Sebaliknya, bila benih yang digunakan tidak bermutu maka produksinya banyak tidak menjanjikan atau tidak lebih baik dari penggunaan benih bermutu.

Penggunaan benih bermutu akan memberi banyak keuntungan bagi petani diantaranya akan mengurangi resiko kegagalan budidaya karena benih bermutu akan mampu tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan, bebas dari serangan hama penyakit sehingga dengan demikian hasil panen dapat sesuai dengan harapan. Pemakaian benih berkualitas tinggi dapat memberi hasil yang diharapkan, yang menyangkut peningkatan kualitas dan kuantitas produksinya. Oleh karena itu penyediaan benih unggul yang bermutu hendaknya memenuhi kriteria enam tepat yaitu tepat varietas, tepat mutu, tepat waktu, tepat jumlah, tepat tempat, dan tepat harga.

DAFTAR PUSTAKA

file:///C:/Documents%20and%20Settings/User/Local%20Settings/Application%20Data/Microsoft/CD%20Burning/BENIH/PERMASALAHAN%20BENIH.htm.

Anonim, 1987. Evaluasi Bibit dalam Pengujian Daya Tumbuh Laboratorium Pusat. Sub Direktorat Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih. Direktorat Bina Produksi Tanaman Pangan, Jakarta.

_____,1992. Teknologi Benih. PT. Rinneka Cipta, Jakarta.

_____,1999. Kebijakan Pembangunan Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta.

_____,2000. Pedoman Umum Analisis Mutu Benih. Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Direktorat Bina Perbenihan, Jakarta.

Baihaki, A 1996. Prospek penerapan “Breeder Right” di Indonesia, dalam Sumarno ,Hari Bowo, B. Priyanto, Nova Agustin dan Widi Wiryani (Ed). Prosiding Simposium Pemuliaan Tanaman IV. Vol V. (9):1-16. Univ.Pembangunan Nsional. Surabaya.

Camacho-Bustos, S. 1987. Managing Fruit-tree Nurseries. International Agricultura

Development Service 6p.

Departemen Pertanian, 2001. Undang-undang RI nomer 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.

Hadi S. dan Baran, W. , 1995. Keterkaitan dunia pendidikan tinggi dengan industri perbenihan dalam penyediaan pangan nasional. Prosiding Seminar Sehari Perbenihan menghadapi Tantangan Pertanian Abad XXI. Keluarga benih vol.VI(1):25-34.

Kartasapoetra, A.G. 1992. Teknologi Benih. Rinneka Cipta Saputra, Jakarta.

Kuswanto, H., 1994. Produksi dan distribusi benih. Forum komunikasi dan antar peminat dan ahli benih. Balittas. Malang.

Qamara, W., dan A, Setiawan S. 1995. Produksi Benih. Bumi Aksara, Jakarta.

Sadjad, S. 1981. Peranan benih dalam usaha pengembangan palawija 1. Buletin Agronomi XII (1): 12-15.

Sumarno, D. M. Arsyad, dan I. Manwan. 1990. Teknologi usaha tani kedelai. Risalah Lokakarya Pengembangan Kedelai.Puslitbangtan Bogor, Hal. 23-49.

Sutopo, L. 1993. Teknologi Benih. PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Wahyu, Q., dan Asep S., 1995a. Produksi Benih. Bumi Aksara, Jakarta.

Wirawan, B., dan Sri Wahyuni. 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Penebar Swadaya, Jak

1 komentar:

  1. thankss,,, dgn ni q bsa melengkapi lg makalh z,,, z memilih jdul ni krna ni sgt bermanfaat bagi perbenihan di indo agar dpat menghasilkan benih yg bermutu shgga bsa mnghasilkan produksi yang maksimal,,

    BalasHapus